JakartaARSNewsy, Tim Formatur Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) secara resmi merilis susunan pengurus PP PBSI masa bakti 2020-2024.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan metode pembinaan cabang bulutangkis antara Yogyakarta, Indonesia dengan Ottapalam, India. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan. Populasi dalam penelitian ini adalah pemain di CSN Badminton Academy India yang berjumlah adalah 32 atlet dan atlet di PB Wiratama Jaya Yogyakarta yang berjumlah 28 atlet. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan yaitu human instrument atau yang dikenal sebagai peneliti kualititatif. Peneliti merupakan instrumen itu sendiri, dengan kata lain peneliti juga perlu “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya turun ke lapangan Sugiyono, 2011 222. Adapun jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data sekunder dan data primer dari kedua klub. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta dan CSN Badminton Academy India memiliki jenis latihan shadow yang sedikit berbeda. CSN Badminton Academy India menggunakan teknik lompatan saat kembali ke posisi awal. Sedangkan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta tidak menggunakan teknik lompatan. 2 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta memiliki atlet yang patuh terhadap peraturan karena persaingan yang ketat. Sedangkan CSN Badminton Academy India memiliki atlet yang kurang patuh terhadap jam berlatih yang disebabkan jauhnya tempat latihan. 3 CSN Badminton Academy India memiliki susunan kepengurusan yang baik serta memiliki bukti fisik. Sedangkan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta kurang melengkapi bukti fisik kepengurusan. AbstractThis study aims to compare the method of developing badminton branches between Yogyakarta, Indonesia and Ottapalam, India. This research uses descriptive method, the design used in this study is field observation. The population in this study were 32 players at CSN Badminton Academy in India and 28 athletes in PB Wiratama Jaya Yogyakarta. Sampling in this study using human instruments or known as qualitative researchers. The researcher is the instrument itself, in other words, the researcher also needs to be "validated" to what extent the qualitative researcher is ready to conduct research which then goes to the field Sugiyono, 2011 222. The types of data used in this study are secondary data and primary data from the two clubs. The results showed that 1 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta and CSN Badminton Academy India have a slightly different type of shadow training. CSN Badminton Academy India uses the jump technique when returning to starting position. Whereas PB. Wiratama Jaya Yogyakarta does not use jumping techniques. 2 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta has athletes who abide by regulations because of intense competition. Whereas CSN Badminton Academy India has athletes who are not obedient to the practice hours due to the training grounds. 3 CSN Badminton Academy India has a good management structure and physical evidence. Whereas PB. Wiratama Jaya Yogyakarta did not complete the management's physical evidence. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free available online at Jurnal Keolahragaan, 8 2, 2020, 204-215 This is an open access article under the CC–BY-SA license. Analisis komparasi metode pembinaan cabang olahraga bulutangkis antara Yogyakarta Indonesia dengan Ottapalam India Mansur Mansur *, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Yogyakarta Jalan Colombo Karangmalang, Yogyakarta 55281, Indonesia * Corresponding Author. Email mansur Received 26 May 2020; Revised 8 October 2020; Accepted 20 November 2020 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan metode pembinaan cabang bulutangkis antara Yogyakarta, Indonesia dengan Ottapalam, India. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, De-sain yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan. Populasi dalam penelitian ini adalah pemain di CSN Badminton Academy India yang berjumlah adalah 32 atlet dan atlet di PB Wiratama Jaya Yogyakarta yang berjumlah 28 atlet. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan yaitu human instrument atau yang dikenal sebagai peneliti kualititatif. Peneliti merupakan instrumen itu sendiri, dengan kata lain peneliti juga perlu “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya turun ke lapangan. Adapun jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data sekun-der dan data primer dari kedua klub. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta dan CSN Badminton Academy India memiliki jenis Latihan shadow yang sedikit berbeda. CSN Badminton Academy India menggunakan teknik lompatan saat kembali ke posisi awal. Sedangkan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta tidak menggunakan teknik lompatan. 2 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta memiliki atlet yang patuh terhadap peraturan karena persaingan yang ketat. Sedangkan CSN Badminton Academy India memiliki atlet yang kurang patuh terhadap jam berlatih yang disebabkan jauhnya tempat latihan. 3 CSN Badminton Academy India memiliki susunan kepengurusan yang baik serta memiliki bukti fisik. Sedangkan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta kurang melengkapi bukti fisik kepengurusan. Kata kunci metode pembinaan, Yogyakarta Indonesia, Ottapalam India A comparative analysis on the badminton coaching between Yogyakarta, Indonesia and Ottapalam, India Abstract This study aims to compare the method of developing badminton branches between Yogyakarta, Indonesia and Ottapalam, India. This research uses descriptive method, the design used in this study is field observation. The population in this study were 32 players at CSN Badminton Academy in India and 28 athletes in PB Wiratama Jaya Yogyakarta. Sampling in this study using human instruments or known as qualitative researchers. The researcher is the instrument itself, in other words the researcher also needs to be "validated" to what extent the qualitative researcher is ready to conduct research which then goes to the field. The types of data used in this study are secondary data and primary data from the two clubs. The results showed that 1 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta and CSN Badminton Academy India have a slightly different type of shadow training. CSN Badminton Academy India uses the jump technique when returning to starting position. Whereas PB. Wiratama Jaya Yogyakarta does not use jumping techniques. 2 PB. Wiratama Jaya Yogyakarta has athletes who abide by regulations because of intense competition. Whereas CSN Badminton Academy India has athletes who are not obedient to the practice hours due to the training grounds. 3 CSN Badminton Academy India has a good management structure and physical evidence. Whereas PB. Wiratama Jaya Yogyakarta did not complete the management's physical evidence. Keywords Coaching methods, Yogyakarta Indonesia, Ottapalam India How to Cite Mansur, M., Kurniawan, F., Wijaya, A., & Suharjana, S. 2020. Perbandingan metode pembinaan cabang bulutangkis antara Yogyakarta Indonesia dengan Ottapalam India. Jurnal Keolahragaan, 82, 204-215. doi Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 205 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online PENDAHULUAN Bulutangkis merupakan olahraga yang dimainkan dengan menggunakan net, raket, dan bola de-ngan teknik pemukulan yang bervariasi mulai dari yang relatif lambat hingga yang cepat disertai dengan gerakan tipuan Grice, 1996. Bulutangkis adalah salah satu cabang olah raga yang populer dan banyak diminati oleh masyarakat di berbagai negara, bahkan bulutangkis sendiri merupakan cabang olahraga terpopuler nomer dua di dunia setelah cabang olahraga sepak bola. Adapun negara-negara yang memiliki pemain bulutangkis dengan keterampilan yang sangat bagus antara lain, Cina, Indonesia, Jepang, Den-mark, Malaysia dan India. Namun dewasa ini, performa pemain bulutangkis India mengalami penurunan dan itu semua terbukti dengan banyaknya kekalahan-kekalahan pemain India di turnamen internasional. Adhiyasa 2019 menyatakan bahwa pencapaian prestasi bulutangkis, misalnya Pusarla Venkata Sindhu tidak tidak stabil usai merebut gelar juara dunia 2019. Bintang tunggal putri India itu disebut-sebut tengah mengalami “post champions sindrome” setelah sebelumnya kerap gagal di sejumlah partai final. Keberhasilan Sindhu merebut tahta juara dunia 2019 di Basel, Swiss pada Agustus lalu merupakan titik puncak dari torehan prestasi sebelumnya yang selalu anti klimaks. Konsekuensinya pemain bulutangkis dituntut untuk meningkatkan dan mengoptimalkan performanya. Dari paparan tersebut, dapat disimpul-kan bahwa bulu tangkis dapat meningkatkan kebugaran dan rasa sosial, hiburan serta mental. Kebugaran tercipta jika komponen fisiknya bagus. Komponen fisik akan bagus jika terlatih melakukan aktivitas fi-sik yang mendukung. Dengan demikian, secara tidak langsung permainan bulu tangkis dapat meningkat-kan komponen fisik pemainnya. Salah satunya adalah kelincahan. Menurut Harsono 1988, kelincahan sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang dalam kehi-dupan sehari-hari. Apalagi dalam kegiatan olahraga, kelincahan sangat diperlukan, baik dalam cabang olahraga permainan seperti bulutangkis. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelincahan yaitu kekuatan, kecepatan, kecepatan reaksi waktu reaksi, keseimbangan, neuromuscular, dan koordinasi faktor-faktor tersebut. Karena pentingnya kelincahan untuk kelangsungan hidup sehari-hari apalagi untuk seorang atlet, Harsono 1988 menyatakan bahwa dalam melakukan aktivitas tersebut dia juga tidak boleh kehi-langan keseimbangan dan harus pula sadar akan posisi tubuhnya. Manuver-manuver demikian sering diperlukan dalam banyak cabang olahraga, terutama dalam cabang-cabang olahraga permainan seperti bulutangkis, olahraga perorangan pun memegang peranan yang sangat penting, oleh karena itu atlet-atlet cabang olahraga permainan seperti bulutangkis, agilitas memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu atlet cabang olahraga tersebut harus dilatih untuk semakin mengembangkan agilitasnya. Salah satu latihan yang harus dikuasai di bulutangkis yaitu latihan shadow. Latihan shadow atau latihan bayangan dilakukan dengan gerakan seperti sungguhan artinya pela-ku melakukan gerakan seperti dia sedang bermain bulutangkis dia bergerak ke kiri depan, kanan, bela-kang seperti mengejar bola dan melakukan pukulan baik dengan raket maupun tanpa raket dengan teknik yang di instruksikan oleh pelatih. Selama melakukan latihan shadow atlet/sampel harus membayangkan arah shuttlecock datang dan membayangkan shuttlecock pengembalian kita, untuk itu tahap pemula latihan shadow, biasanya atlet bergerak ke berbagai arah dengan instruksi dari pelatih. Setelah atlet dianggap menguasai apa yang harus diistruksikan pelatih atlet diberikan kebebasan untuk bergerak sesuai dengan daya tafsir dari atlet itu sendiri. Untuk memberikan dampak yang besar terhadap performa atlet, latihan harus diimbangi dengan kedisiplinan. Disiplin mempunyai makna yang luas dan berbeda-beda, oleh karena itu disiplin mempunyai berbagai macam pengertian. istilah disiplin berasal dari bahasa latin “Disiplina” yang menunjuk kepada kegiatan belajar dan mengajar. Istilah tersebut sangat dekat dengan istilah dalam bahasa Inggris “Disciple” yang berarti mengikuti orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin Tu’u, 2004. Pengertian tentang disiplin telah banyak didefinisikan dalam berbagai versi oleh para ahli. Ahli yang satu mempunyai batasan lain apabila dibandingkan dengan ahli lainnya. Definisi pertama yang berhubungan dengan disiplin diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Hoedaya 2007 yaitu kepa-tuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah kepatuhan mentaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan, sedangkan Khalsa 2008 menjelaskan bahwa disiplin melatih melalui pengajaran dan pelatihan. Menurut Koesoema 2007, istilah disiplin terutama mengacu pada proses pembelajaran. Disiplin senantiasa dikaitkan dengan konteks relasi antara murid dan guru serta lingkungan yang menyertainya, seperti tata peraturan, tujuan pembelajaran dan pengembangan kemampuan dari murid melalui bimbingan guru. Sementara Njoroge dan Nyabuto 2014 menyatakan Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 206 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online bahwa disiplin adalah unsur yang sangat penting bagi keberhasilan prestasi akademik siswa. Disiplin sekolah memainkan peran penting dalam pencapaian harapan dan tujuan pembelajaran. Hal ini juga memainkan peran penting dalam akuisisi rasa tanggung jawab pada peserta didik serta pendidik. Dalam bahasa Indonesia, istilah disiplin sering terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Istilah ketertiban mempunyai arti kepatuhan seorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena dorongan atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari luar dirinya. Sebaliknya istilah disiplin sebagai kepatuhan dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dari dalam diri orang itu. Hal ini sesuai dengan pendapat Zuriah 2006 yang menyatakan bahwa seseorang dikatakan berdisiplin apabila melakukan pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan waktu dan tempatnya serta dikerja-kan dengan penuh kesadaran, ketekunan, keikhlasan atau tanpa paksaan dari pihak manapun. Berdasar-kan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah suatu kepatuhan atau ketaatan seseorang terhadap peraturan dan tata tertib yang telah ditetapkan berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dalam hatinya serta dilakukan secara teratur tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Apapun bentuk kegiatan yang jika dilaksanankan secara kelembagaan, yang melibatkan sejumlah personal dan memamfaatkan sumber daya, maka unsur manajemen memegang peranan penting. Kata kunci disini adalah manajemen dibutuhkan karena kita selalu berhadapan dengan tantangan berupa ke-langkaan sumber daya. Tidak ada sumber daya yang berlebihan, lebih-lebih untuk kondisi penjas dan olahraga di Indonesia seperti kondisi sekarang ini. Fungsi utama manajemen adalah untuk mengoptimal-kan efisiensi, sekaligus efektivitas pembinaan. Kedua istilah ini terkait langsung dengan sasaran dan tujuan pembinaan. Sangat besar peluang bahwa pembinaan itu berlangsung dalam keadaan efisiensi yang amat rendah jika bukan sebagai pemborosan. Dalam konteks Manajemen olahraga adalah suatu kombinasi ketrampilan yang berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian, penganggaran, dan evaluasi dalam kontek suatu organisasi yang memiliki produk utama berkaitan dengan olahraga. Park 1998 pengkobinasian tersebut perlu sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi, bersatu dalam sebuah system bahu membahu bekerja untuk mencapai tujuan. METODE Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode deskriptif didefinisikan sebagai metode sebuah metode penelitian yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang ada yang masih terjadi sampai saat sekarang atau waktu yang lalu Sukardi, 2008. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan. Tempat penelitian yaitu di PB Wiratama Jaya Yogyakarta dan CSN Badminton Academy India. Waktu penelitian dilaksanakan selama peneliti melatih di tiap klub. Peneliti melakukan penelitian di PB Wiratama Jaya Yogyakarta pada bulan September-Oktober 2019. Sedangkan, melakukan penelitian di CSN Badminton Academy Ottapalam India pada bulan November-Desember 2019 dengan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet di CSN Badminton Academy Ottapalam India yang berjumlah adalah 32 atlet laki-laki dan atlet di PB Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia yang berjumlah 28 atlet. Instrumen yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu human instrument atau yang dikenal sebagai peneliti adalah sumber maupun ahli/pakar sehingga dapat menentukan sendiri dan berperan menyusun dan menjadi instrumen itu sendiri khususnya dalam ranah kajian pendekatan kualititatif. Pe-neliti merupakan instrumen itu sendiri, dengan kata lain peneliti juga perlu “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya turun ke lapangan Sugiyono, 2010. Adapun jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data sekunder dan data primer dari kedua klub. Sebelum terjun ke lapangan, peneliti sudah melakukan analisis terlebih dahulu menggunakan data sekunder yang dapat digunakan untuk fokus penelitian. Selama di lapangan, peneliti melakukan analisis data dengan menggunakan metode Miles et al. 2014. Peneliti akan melakukan beberapa kali wawan-cara sampai datanya jenuh kemudian melakukan reduksi data. Setelah mereduksi data, peneliti akan melakukan penyajian data dan terakhir melakukan kesimpulan Sugiyono, 2010. Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 207 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan observasi lapangan langsung dalam penelitian ini dengan pengamatan yang dilaku-kan pada kedua klub persatuan bulutangkis yang ada di Indonesia yaitu PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia dan klub persatuan bulutangkis yang ada di India yaitu CSN Badminton Academy Ottapalam India dapat di deskripsikan secara gamblang pada Tabel 1. Tabel 1. Deskripsi perbandingan pola manajemen pelatihan secara umum Menggunakan langkah sehingga pergerakan footwork cenderung lebih efisien. Menggunakan lompat sehingga pergerakan footwork cenderung kurang efisien. Atlet lebih disiplin terhadap waktu dan peraturan pelatihan Masih ada atlet yang tidak disiplin waktu dan peraturan pelatihan struktur manajemen organisasi cenderung masih kurang tertata. Struktur manajemen organisasi lebih tertata. Deskripsi Kondisi di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia Berikut deskripsi per jenis pengamatan yang peneliti lakukan terkait perbandingan pola manaje-men pelatihan dalam perspektif pengamatan di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia. Latihan Shadow Selain teknik dasar pukulan bulutangkis, seorang pemain juga wajib menguasai latihan shadow dalam bulutangkis. Dimana latihan shadow ini sangat bermanfaat dan dapat meningkatkan efektivitas dan efisien pergerakan atlet atau pemain bulutangkis. Latihan shadow ini mempunyai tujuan untuk mela-tih pergerakan kaki guna menjelajah serta menguasai lapangan bulutangkis. Adapun latihan shadow yang diberikan oleh pelatih-pelatih yang ada di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia sedikit berbeda dengan latihan shadow yang dilakukan di India. Adapun latihan shadow yang dilakukan di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia sebagai berikut. Atlet memulai posisi di tengah lapangan, lalu melangkahkan kaki ke pojok kanan depan, lalu kembali ke tengah dengan langkah mundur jingkat kaki kanan dan kiri secara bergantian. Selanjutnya melangkah ke kiri depan dan kembali lagi ke posisi tengah dengan langkah yang sama. Setelah itu, kembali ke tengah dengan langkah mundur jingkat. Langkah mundur dengan mengjingkatkan tungkai lebih efesien karena pemain bisa lebih cepat kembali ke posisi awal. Selain itu, atlet bisa lebih siap untuk menerima shuttlecock dari lawan dan tidak mengeluarkan banyak energi. Langkah seperti ini di gunakan para pemain international di era sekarang. Disiplin Dari data sekunder yang diberikan oleh pelatih, kedisiplinan atlet di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia terbilang cukup baik. Hampir setiap atlet datang ke tempat latihan sebelum jam latihan dimulai. Hampir semua atlet berdomisili di Kota Yogyakarta, sehingga memudahkan akses me-nuju tempat latihan. Selain itu, atlet di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesiasangat menaati peratur-an yang dibuat oleh pelatih selama latihan maupun peraturan yang dibuat oleh klub. Hal ini disebabkan oleh daya saing yang cukup tinggi antar atlet. Saat ada pertandingan, tidak semua atlet PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia bermain pada pertandingan tersebut. Pelatih akan menseleksi siapa yang akan bertanding pada pertandingan tersebut. Oleh karena itu, tiap atlet sangat menaati peraturan yang diberikan oleh pelatih maupun klub agar tetap diikutkan dalam pertandingan-pertandingan yang akan datang. Manajemen Organisasi PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesiaberdiri sejak 2013 akhir dan sudah memiliki struktur organisasi pengurus yang cukup jelas. PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesiasudah punya pelindung yaitu PBSI cabang Kota Yogyakarta. Secara administrasi, PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia memiliki dua ketua, satu sekretaris, satu bendahara, dan empat pelatih. Adapun atlet yang saat ini tercatat sebagai atlet binaan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia sebanyak 28 atlet. Usia atlet binaan PB. Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 208 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia cukup beragam yaitu, mulai dari usia 9 tahun sampai 17 tahun keatas. Walaupun struktur pengurus klub PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia sudah cukup jelas dengan adanya pelindung, ketua, sekretaris dan pelatih, akan tetapi bukti secara administrasi belum leng-kap. Adapun bukti fisik yang belum dimiliki oleh PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia yaitu, kantor pengurus, papan nama pengurus, daftar perlengkapan yang dimiliki, dan data kehadiran atlet. Suatu klub olahraga tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak memiliki dana operasional. Dana operasional di PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia berasal dari peserta latih dengan biaya Rp. perbulan. Sejauh ini, tidak banyak sponsor yang bekerjasama dengan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta. Hal tersebut dikarenakan klub yang baru berjalan beberapa tahun. Adapun fasilitas yang disediakan oleh PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia sudah cukup baik. PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia biasa melakukan latihan rutin di GOR Segoro Amarto dan GOR BLPTK Yogyakarta. PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia juga memiliki alat latihan yang disediakan untuk atlet berupa net, shuttlecock, raket, dan baju latihan. Deskripsi Kondisi di CSN Badminton Academy Ottapalam India Berikut deskripsi per jenis pengamatan yang peneliti lakukan terkait perbandingan pola manaje-men pelatihan dalam perspektif pengamatan di CSN Badminton Academy Ottapalam India. Latihan Shadow Selain teknik dasar pukulan bulutangkis, seorang pemain juga wajib menguasai teknik dasar foot-work atau shadow badminton. Dimana teknik footwork ini sangat bermanfaat dan dapat meningkatkan efektivitas dan efisien pergerakan atlet atau pemain bulutangkis. Pada dasarnya latihan shadow di CSN Badminton Academy Ottapalam India tidak jauh berbeda dengan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta, namun terdapat sedikit perbedaan khususnya pada saat perge-rakan atlet kembali ke center line. Atlet memulai posisinya dari tengah lapangan. Lalu kembali ke posisi tengah dengan melompatkan tungkai kanan dan tungkai kiri ke belakang secara bergantian. Atlet kem-bali pada posisi awal dalam keadaan posisi tungkai kanan di depan dan posisi tungkai kiri di belakang. Latihan shadow dengan cara melompat saat ke posisi awal merupakan cara yang kurang efisien. Hal tersebut dikarenakan atlet akan lebih lama untuk bereaksi ke posisi selanjutnya. Atlet harus meredam lompatan yang ia lakukan dengan menggunakan teknik pegas pada kedua tungkai dan setelah itu baru melanjutkan ke posisi selanjutnya. Walaupun begitu, latihan shadow seperti yang dilakukan di CSN Badminton Academy Ottapalam India pernah diterapkan di era Rudi Hartono. Disiplin Selama peneliti melatih di CSN Badminton Academy India, peneliti menemukan beberapa isu terkait kedisiplinan atlet. Setelah melakukan wawancara dengan ketua dan pelatih yang lain, peneliti mendapati bahwa jarak antara rumah atlet dengan tempat latihan cukup jauh. Tiap atlet harus menempuh waktu satu sampai dua jam untuk ke tempat latihan. Hal ini yang menyebabkan sebagian besar atlet sering datang terlambat. Selain itu, atlet juga cukup sulit untuk berkonsetrasi terhadap latihan yang dibe-rikan oleh pelatih karena energi yang sudah terkuras selama seharian belajar di sekolah dan melakukan perjalanan jauh menuju tempat latihan. Manajemen Organisasi CSN Badminton Academy Ottapalam India berdiri pada tahun 2013 dan dibawahi langsung oleh KBA Kerala Badminton Association. Adapun susunan pengurus CSN Badminton Academy Ottapalam India tediri dari satu ketua, dua bendahara, dua sekretaris, tiga pelatih. CSN Badminton Academy Ottapalam India memiliki 32 atlet binaan yang terdiri dari usia 9 tahun sampai 15 tahun keatas. Secara administrasi, CSN Badminton Academy Ottapalam India juga memiliki bukti fisik yaitu, kantor kepengurusan klub, papan nama kepengurusan klub, data presensi atlet yang hadir tiap latihan dan daftar perlengkapan yang dimiliki. Selain itu, CSN Badminton Academy Ottapalam India juga memiliki buku jurnal yang diisi oleh pelatih dan didalamnya terdiri dari progres yang sudah dilakukan tiap atlet. Hal ini memudahkan pelatih jika sewaktu-waktu orang tua atlet bertanya tentang progres yang dilakukan oleh anaknya selama berlatih di CSN Badminton Academy Ottapalam India. Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 209 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online Sumber dana yang dimiliki oleh CSN Badminton Academy Ottapalam India berasal dari iuran peserta latih dan Office CSN Cultural Trust, CSN Cultural Trust yaitu Auditorium Sri Chettur Sankaran Nair memorial. Selain itu, CSN Badminton Academy Ottapalam India memiliki kerjasama dengan bebe-rapa sponsor dibidang olahraga maupun minuman isotonik. Sehingga saat ada pertandingan, sponsor tersebut dapat memberikan barang atau alat maupun fresh money untuk menunjang biaya pertandingan. Adapun fasilitas latihan yang disediakan CSN Badminton Academy Ottapalam India berupa hall badminton, gym, baju latihan dan alat-alat latihan net, shuttlecock, cone, raket dan plyometric box. Pembahasan Menurut dari deskripsi pada hasil penelitian tersebut, patutlah para pelaku olahraga di lapangan khususnya olahraga prestasi untuk dapat selalu memantau perkembangan dan keterbaharuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya disiplin ilmu keolahragaan yang mana sangat penting untuk pengoptimalan kinerja olahraga. Dalam kapasitas ini, ilmu keolahragaan akan melibatkan interaksi yang erat antara ilmuan keolahragaan dan arah pengembangan serta pelaksanaan intervensi pelatihan yang dijalani atlet dalam upaya mengoptimalkan kinerja olahraga di semua tingkatan Stone et al., 2004. Konsep dan Prinsip Latihan Pada analisis studi kualitatif ini dimana mencoba mengkomparasikan antara bagaimana cara melatihkan shadow badminton antara PB. Terkait dengan bentuk latihan shadow badminton, Rahman dan Warni 2017 menuturkan bahwasanya gambaran bentuk latihan dalam shadow badminton layaknya bermain bulutangkis yang benar. Kita harus menguasai dasar dari teknik pukulan stroke dan langkah kaki, teknik pukulan yg benar bagi pebulutangkis tangan kanan adalah pada posisi mau memukul maka posisi kaki kanan harus di belakang kaki kiri kemudian tangan ditarik ke belakang siap dengan posisi memukul. Posisi pukul yg optimal adalah pada saat bola berada kurang lebih 10 derajat di atas depan posisi kita, pengambilan posisi ini erat kaitannya dengan pergerakan kaki untuk mencari posisi yang optimal, latihan untuk melakukan pukulan yang baik adalah dengan cara melatih lob dengan patner kita selama mungkin, sementara untuk langkah kaki, kita bisa melakukan latihan shadow badminton per-gerakan langkah kaki dengan tanpa shuttlecock. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia dengan CSN Badminton Academy Ottapalam India ditemukan sedikit hal perbedaan dimana perbedaan tersebut sejatinya tidak terlalu berlebihan, namun dapat berakibat cukup fatal bagi kinerja atlet pada saat melaku-kan pergerakan pada saat bermain atau bertanding dimana pergerakan footwork dari atlet menjadi tidak efisien khususnya dalam bereaksi mengubah posisi dalam waktu yang cepat. Penguasaan kemampuan koordinasi untuk mewujudkan ketrampilan gerak pada cabang olahraga, hanya dapat dicapai melalui proses pembelajaran dan pelatihan, yaitu mempelajari dan memahami pola-pola latihan, yang selanjutnya harus diikuti dengan latihan, yaitu dengan mengulang drilling gerakan yang harus dikuasai tersebut. Tujuan pengulangan adalah agar atlet menjadi hafal bagaimana melakukan koordinasi gerakan itu secara akurat. Hal ini senada dengan pernyatan yang diutarakan oleh Kusuma, 2013 bahwasanya pelatihan merupakan suatu proses berlatih yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang dan jumlah beban pelatihannya bertambah. Sehingga memberikan rangsangan secara menyeluruh terhadap tubuh dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental secara menyeluruh. Dalam konteks fisiologi, drilling dimaksudkan agar penguasaan gerakan tersebut mencapai ting-kat reflek bersyarat conditionet reflect. Mutu tinggi ketrampilan gerak kecabangan olahraga diwujud-kan oleh akurasi tinggi gerakan tersebut. Akurasi gerak dalam hal ini merupakan wujud dari akurasi koordinasi fungsi komponen-komponen neoromuscular yang terlibat dalam gerakan tersebut. Kemam-puan mewujudkan gerak yang akurat hakikatnya adalah kemampuaan mewujutkan keindahan gerak. Semua cabang olahraga prestasi menuntut tercapainnya akurasi gerakan Giriwijoyo & Sidik, 2019. Hal senada juga lebih dipertegas kembali oleh Iaia et al. 2011 yang menyatakan bahwa sejumlah studi cross-sectional telah meneliti masalah faktor fisiologis mana yang menentukan kinerja atau apa yang menyebabkan kelelahan pada berbagai intensitas latihan. Sehingga dapat dinyatakan dan dipertegas banyak faktor secara fisiologis yang nantinya akan memberikan pengaruh besar terhadap kualitas penampilan atlet di lapangan. Berkaitan dengan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa perlunya kembali tim pelatih mencermati lebih mendalam terkait konsep dasar pelatihan teknik bulutangkis secara hakiki dan penyesuaian dalam langkah-langkah proses pelatihan dimana dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip latihan yang ber- Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 210 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online laku. Hal ini dapat dijadikan pencermatan dimana sesuai dengan pernyataan dari Halson dan Jeukendrup 2004 bahwasanya program pelatihan dirancang untuk meningkatkan kinerja dengan mengembangkan sumber energi yang sesuai, meningkatkan struktur otot, dan meningkatkan pola keterampilan otot saraf. Ahli kedokteran olahraga harus memahami prinsip dasar dan proses pelatihan, sehingga mereka dapat mengevaluasi program pelatihan dan menentukan kecukupannya dalam menjaga kesehatan atlet dan mencegah cedera. Sebagai referensi bahan pencermatan, dapat dimaknai berdasarkan teori yang disam-paikan oleh Sukadiyanto dan Muluk 2011, pada beberapa prinsip yang dapat dilaksanakan sebagai pedoman agar tujuan latihan tercapai yaitu. Prinsip Kesiapan Pada prinsip ini, materi dan dosis latihan harus disesuaikan dengan usia, karena hal ini berkaitan dengan kondisi fisiologis dan psikologis olahragawan. Hal tersebut berarti bahwa para pelatih harus mempertimbangkan dan memperhatikan tahap pertumbuhan dan perkembangan atletnya. Prinsip Individual Prinsip ini berdasar dari perbedaan individu setiap orang dan tidak dapat disamakan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Beberapa faktor yang dapat membedakan antara lain faktor keturunan, faktor kematangan, faktor gizi, faktor waktu istirahat dan tidur, faktor kebugaran, lingkungan, sakit, cedera, and motivasi. Prinsip adaptasi Pada prinsip ini organ tubuh manusia cenderung selalu mampu untuk beradaptasi terhadap per-ubahan lingkunganya. Keadaan ini tentu menguntungkan untuk keterlaksanaan proses berlatih-malatih sehingga kemampuan manusia dapat dipengaruhi dan ditingkatkan melalui proses latihan. Prinsip beban lebih Prinsip ini berbicara tentang beban latihan harus mencapai atau melampaui sedikit diambang batas rangsangan. Sebab beban yang terlalu berat akan mengakibatkan tidak mampu diadaptasi oleh tu-buh, sedang bila terlalu ringan tidak berpengaruh terhadap peningktan kualitas fisik, sehingga beban latihan harus memenuhi prinsip latihan itu. Prinsip progresif Agar terjadi proses adaptasi pada tubuh, maka diperlukan prinsip beban lebih yang diikuti dengan prinsip progresif. Latihan yang bersifat progresif artinya dalam pelaksanaan latihan dilakukan dari yang mudah ke yang sukar, sederhana ke kompleks, umum ke khusus, bagian ke keseluruhan, ringan ke berat, dan dari kuantitas ke kualitas. Prinsip spesifik Untuk prinsip spesifik ini materi latihan harus dipilih sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga-nya. Untuk itu, sebagai pertimbangan dalam menerapkan prinsip spesifikasi antara lain di tentukan oleh a spesifikasi kebutuhan energy, b spesifikasi bentuk dan metode latihan, c spesifikasi ciri gerak dan kelompok otot yang digunakan, d waktu periodisasi latihan. Prinsip variasi Program latihan yang baik harus disusun secara variatif untuk menghindari kejenuhan keenggan-an dan keresahan yang merupakan kelelahan secara psikologis. Untuk itu program latihan perlu disusun lebih variatif agar tetap meningkatkan ketertarikan olahrgawan terhadap latihan, sehingga tujuan latihan tercapai. Prinsip pemanasan dan pendinginan Dalam satu unit latihan atau satu pertemuan latihan selalu terdiri dari 1 pengantar 2 pemanas-an 3 latihan inti, 4 latihan suplemen 5 cooling down. Pemanasan bertujuan untuk mempersiapkan fisik dan psikis olahragawan memasuki latihan inti sedangkan tujuan pendinginan adalah agar tubuh kembali pada keadaan normal secara bertahap dan tidak mendadak setelah latihan. Prinsip latihan jangka panjang Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 211 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online Untuk meraih prestasi terbaik, diperlukan proses latihan dalam jangka waktu yang lama, pengaruh beban latihan tidak dapat diadaptasi oleh tubuh secara mendadak tetapi membutuhkan waktu dan proses yang harus dilakukan secara bertahap dan kontinyu. Prinsip berkebalikan Prinsip ini berarti olahragawan berhenti dari latihan dalam waktu tertentu bukan dalam waktu yang lama, maka kualitas organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi secara otomatis. Prinsip tidak berlebihan Prinsip ini menekankan bahwa pembebanan harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan, per-tumbuhan, dan perkembangan olahragawan sehingga beban latihan yang diberikan benar-benar tepat. Prinsip sistematik Prinsip ini berkaitan dengan ukuran atau dosis pembebanan dan skala prioritas, sasaran latihan, setiap sasaran latihan memiliki aturan dosis pembebanan yang berbeda-beda. Kedisiplinan Pada analisis studi kualitatif ini dimana mencoba mengkomparasikan antara bagaimana cara pola kedisiplinan maupun terhadap ketaataturan terhadap peraturan yang berlaku saat proses pelatihan antara PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia dengan CSN Badminton Academy Ottapalam India ditemukan sedikit hal perbedaan dimana perbedaan tersebut sejatinya tidak terlalu berlebihan, namun dapat berakibat cukup fatal bagi kinerja atlet pada saat melakukan aktivitas pelatihan. Sekalipun hal tersebut bukanlah bersifat pemakluman, namun sejatinya khusus pada para atlet dari CSN Badminton Academy Ottapalam India kekurang disiplinan tersebut terjadi mengingat kendala jarak tempat latihan dari rumah masing-masing. Pada sisi lain dapat diketahui bahwasanya memang di India cabang olahraga bulutangkis belum menjadi salah satu yang di unggulkan layaknya di Indonesia, sehingga daya dukungnya belum selaik di Indonesia. Namun terlepas dari beberapa hal tersebut, ada baiknya bila kita semua dapat mencermati hal-hal yang bijak terkait kedisiplinan tersebut dari berbagai narasumber. Menurut Setyobroto 2002 dalam kehidupan sosial merupakan kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai. Orang yang memiliki sifat disip-lin terlihat dari kesediaan untuk mereaksi dan bertindak terhadap nilai-nilai yang berlaku, yaitu nilai-nilai yang tertuang dalam bentuk ketentuan, tata tertib, aturan, tatanan hidup, atau kaidah kaidah tertetu. Jadi disiplin dalam bidang latihan ini harus dimiliki oleh setiap atlet yang bertujuan untuk menca-pai prestasi maksimal, dan disiplin tersebut dapat itingakatkan menjadi disiplin diri, dengan demikian dapat dikatakan seorang atlet yang memiliki tingkat disiplin diri yang tinggi maka setiap latihan yang dilakukan akan memproleh hasil yang maksimal maka dapat dikatakan atlet akan dapat meraih sebuah prestasi dalam biadang olahraga yang digelutinya. Begitu juga sebaliknya jika seorang atlet kurang memiliki disiplin diri dalam mengikuti latihan yang dilakukan maka seorang atlet tidak dapat mencapai hasil latihan yang maksimal sehingga menurunnya prestasi olahraga yang digelutinya. Berlandasan pada teori sosial bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang hidup di ling-kungan. Lingkungan sosial sebagai tempat beraktivitas akan mempengaruhi pembentukan karakter ma-nusia. Pembentukan karakter merupakan proses sepanjang kehidupan manusia. Sejalan dengan ung-kapan tersebut bahwa kedisiplinan merupakan salah satu nilai yang akan dibentuk dimana disiplin melandasi proses berlatih disetiap latihan yang dilakukan, dalam hal ini disiplin dalam latihan dapat mengembangkan kualitas fisik, teknik, taktik dan mental sampai tingkatan maksimal pada saat latihan. Kedisiplinan merupakan salah satu nilai yang terbentuk dari proses berlatih. Manusia akan memi-liki tingkat kedisiplinan tinggi, yang akan ditransfer untuk melaksanakan aktivitas fisik yang dilakukan-nya. Berikut telaah terkait disiplin dari berbagai perpspektif yang dipaparkan oleh para pakar. Peneliti berpandangan bahwasanya disiplin merupakan komponen penting dari perilaku manusia dan menegaskan bahwa tanpa itu suatu organisasi tidak dapat berfungsi dengan baik menuju pencapaian tujuannya, merujuk dari pernyataan Ouma et al. 2013. Terkait dengan pola pandang disiplin dalam peningkatan performa, pernyataan dari Gitome et al. 2013 dapat menjadi rujukan sebagai penguat atas hubungan yang sangat erat antara factor disiplin terhadap kualitas performa atlet dimana terdapat disip-lin yang baik, maka prestasi akan meningkat. Sehingga pada sudut pandang yang lain, maka akan terjadi pola pandang yang umumnya sebagai bentuk yang berlawanan terkait dengan kedisiplinan, dimana Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 212 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online terdsapat pihak yang disiplin, umumnya akan terdapat pula pihak tertentu yang kecenderungannya dapat dikatakan kurang bahkan cenderung tidak disiplin. Hal ini menurut Omote et al. 2015 sebagai gambar-an dari bentuk ketidakdisiplinan dapat dilihat sebagai tindakan yang dianggap salah dan tidak secara umum diterima sebagaimana mestinya dalam tatanan atau masyarakat, sehingga dapat dinyatakan apa-bila merujuk pada pernyataan tersebut maka secara tidak langsung selain mereka yang cenderung tidak disiplin atau kurang disiplin tersebut tidak hanya akan berdampak pada kualitas performanya saja, me-lainkan juga secara moral dari lingkungn sekitarnya yang dalam hal ini dapat dikatakan dari lingkungan berlatih bulu tangkisnya dalam komunitasnya tersebut. Hal ini pula berkesinambungan antara cakupan perpspektif disiplin terhadap kualitas performa yang langsung terfokus pada unsure fisiologis bahkan unsure pendukung lainnya. Penguatan tersebut diungkapkan oleh Čoh 2003; dan Goodway et al. 2003 bahwa kesuksesan dalam disiplin atletik ter-tentu bergantung pada keterampilan motorik yang menjadi dasarnya sukses dalam aktivitas tertentu, tentunya dengan partisipasi struktur lain morfologis, fungsional, konatif dan kognitif. Sukses dalam olahraga dan keterampilan motorik mencapai tingkat korelasi yang tinggi menurut koefisien genetik. Manajemen Organisasi Olahraga Pada analisis studi kualitatif ini dimana mencoba mengkomparasikan antara bagaimana cara pola kedisiplinan maupun terhadap ketaat aturan terhadap peraturan yang berlaku saat proses pelatihan antara PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia dengan CSN Badminton Academy Ottapalam India ditemukan sedikit hal perbedaan dimana perbedaan tersebut sejatinya tidak terlalu mencolok, dimana perbedaannya hanya terletak kepada beberapa hal yang sifatnya cenderung bersifat administratif. Kecenderungan hal-hal sederhana layaknya papan nama Klub bulutangkis, historical klub bulu-tangkis, biografi para pengurus klub bulutangkis yang dipasang di tempat latihan, jurnal-jurnal terkait pelatihan bulutangkis hingga presensi latihan permanen. Namun justru beberapa hal tersebut merupakan salah satu identitas dari klub bulutangkis tersebut yang memang harus diakui di berbagai tempat di Indonesia belum banyak yang memunculkan dan mengeterapkannya. Sebelum secara spesifik kajian difokuskan kepada analisa seputar manajemen organisasi terkait dunia olahraga, ada baiknya untuk dapat menjadi pencermatan dan telaah di awal perlunya dapat me-maknai terlebih dahulu apa itu olahraga. Menurut Proios et al. 2013 mengemukakan bahwa olahraga adalah bagian dari lingkungan sosial yang lebih besar, dan area di mana sebagian besar masyarakat seca-ra aktif berpartisipasi sebagai atlet, wasit, pelatih, pemain, suporter, fans, dan lain-lain. Pada saat yang sama, olahraga adalah salah satunya faktor yang mendorong perkembangan budaya manusia. Merunut dari pemaknaan olahraga tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya para pelaku olahraga secara otomatis merupakan bagian dari suatu organisasi dengan banyak orang dalam posisi, kepentingan dan targetnya masing-masing. Sehingga dalam perpspektif ini kiranya sekumpulan orang tersebut maka perlu untuk dikelola atau di manajemen agar dapat terkondisikan dengan jauh lebih baik. Menurut Kautsar et al. 2018 manajemen sangat penting bagi setiap aktivitas individu atau ke-lompok dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen berorientasi pada proses yang berarti bahwa manajemen membutuhkan sumber daya manusia, pengetahuan dan keterampilan agar aktivitas lebih efektif atau dapat menghasilkan tindakan dalam mencapai kesuksesan. Oleh sebab itu, tidak akan ada organisasi yang akan sukses apabila tidak menggunakan manajemen yang baik. Manajemen secara umum di definisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memeroleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain Siagian, 2005. Mana-jemen dan administrasi tidak menjalankan sendiri-sendiri kegiatannya yang bersifat organisasional, tetapi bersama-sama berada dalam satu gerak dan langkah. Paturusi 2012 menegaskan pada proses administrasi fungsi-fungsi lebih bersifat general dan berlaku bagi seluruh organisasi. Sedangkan pada proses manajemen fungsi-fungsi lebih bersifat departemental atau sektoral. Fungsi adalah kegiatan atau tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam usaha mencapai tujuan. Dilihat adanya beberapa aspek utama masalah manajemen yaitu perencanaan planning, pengor-ganisasian organizing, pelaksanaan actuating, dan pengawasan, monitoring dan evaluasi. Keempat fungsi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 213 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online Manajemen Perencanaan Perencanaan adalah penentuan lebih awal tujuan yang ingin dicapai dan alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu Husdarta, 2011. Perencanaan itu mencakup apa yang dilakukan, bagaimana melakukan, dan siapa yang akan melakukannya. Karena selalu ada anggapan antara apa yang telah dicapai dan apa yang dituju, maka evaluasi dibutuhkan. Manajemen Pengorganisasian Menurut Harsuki 2012 mengartikan organisasi merupakan suatu arena dimana manusia bekerja-sama guna melaksanakan tugas yang kompleks untuk mencapai tujuannya. Jadi, pengertian organisasi lebih berfokus pada upaya untuk mengaktualkan dan mengkoordinasikan kerjasama antara individu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen Penggerakan Pergerakan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik, dan metode untuk men-dorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien, efektif dan ekonomis. Manajemen pengawasan monitoring dan evaluasi Menurut Mesnan dan Antonius 2019 pengawasan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya, dan bila perlu mengoreksi dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula. Dalam melaksanakan kegiatan controlling, seorang pemimpin mengadakan pemeriksaan serta mengusahakan agar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai rencana yang telah ditetapkan serta tujuan yang ingin dicapai. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data, deskripsi, pengujian hasil penelitian, dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan, yaitu Pertama, PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia dan CSN Badminton Academy Ottapalam India memiliki jenis latihan shadow yang sedikit berbeda. CSN Badminton Academy Ottapalam India menggunakan teknik lompatan saat kembali ke posisi awal. Sedangkan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia tidak menggunakan teknik lompatan. Kedua, PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia memiliki atlet yang patuh terhadap peraturan karena persaingan yang ketat. Sedangkan CSN Badminton Academy Ottapalam India memiliki atlet yang kurang patuh terhadap jam berlatih yang disebabkan jauhnya tempat latihan. Ketiga, CSN Badminton Academy Ottapalam India memiliki susunan kepengurusan yang baik serta memiliki bukti fisik. Sedangkan PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia kurang melengkapi bukti fisik kepengurusan. Keempat, Dari keseluruhan analisa dan kajian secara akademik dari penelitian ini baik dalam perspektif optimalisasi prinsip latihan, opti-malisasi kedisiplinan baik dari atlet hingga pelatih, manajemen organisasi, manajemen pengembangan dan peningkatan ilmu dan pengetahuan bagi para pelatih maupun pihak manajemen organisasi serta koordinasi dan komunikasi terhadap pihak orang tua agar terjalin hubungan dan interaksi social yang dapat saling mendukung dapat dijadikan rujukan yang sangat bermanfaat bagi PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia maupun CSN Badminton Academy Ottapalam India dalam mengoptimalkan dari masing-masing kekurangan untuk dapat menjadi saling melengkapi agar dapat jadi lebih baik lagi. Dan kelima, Manusia sebagai subjek dan cabang olahraga sebagai objek merupakan bentuk variable yang sangat dinamis dimana setiap saat pasti akan terjadi perubahan dalam perkembangannya, sehingga wajib hukumnya bagi semua unsure terkait untuk dapat selalu cepat bereaksi agar dapat beradaptasi dan tidak ketinggalan terhadap segala bentuk perkembangan tersebut dan tidak terlepas pula bagi PB. Wiratama Jaya Yogyakarta Indonesia maupun CSN Badminton Academy Ottapalam India. DAFTAR PUSTAKA Adhiyasa, D. 2019. Ratu bulutangkis India ungkap pemicu jebloknya prestasi saat ini. Čoh, M. 2003. Razvoj brzine u kondicijskoj pripremi sportaĆĄa. U D. Milanović i I. Jukić Ur., Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 214 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online Kondicijska Priprema SportaĆĄa, Zbornik Radova Međunarodnog Znanstveno-Stručnog Skupa, Zagreb, 2122, 229–238. Giriwijoyo, H. Y. S. S., & Sidik, D. Z. 2019. Ilmu faal olahraga fisiologi olahraga. Remaja Rosdakarya. Gitome, J. W., Katola, M. T., & Nyabwari, B. G. 2013. Correlation between students’ discipline and performance in the Kenya Certificate of Secondary Education. International Journal of Education and Research, 18, 1–10. Goodway, J. D., Crowe, H., & Ward, P. 2003. Effects of motor skill instruction on fundamental motor skill development. Adapted Physical Activity Quarterly, 203, 298–314. Grice, T. 1996. Bulu tangkis Petunjuk praktis untuk pemula dan lanjut. PT RajaGrafindo Persada. Halson, S. L., & Jeukendrup, A. E. 2004. Does overtraining exist? Sports Medicine, 3414, 967–981. Harsono, H. 1988. Coaching dan aspek-aspek psikologis dalam coaching. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Harsuki, H. 2012. Pengantar manajemen olahraga. PT Raja Grafindo Persada. Hoedaya, D. 2007. Kajian psikologi olahraga dari perspektif disiplin keilmuan. FPOK UPI. Husdarta, H. J. S. 2011. Manajemen pendidikan jasmani. Alfabeta. Iaia, F. M., Perez-Gomez, J., Thomassen, M., Nordsborg, N. B., Hellsten, Y., & Bangsbo, J. 2011. Relationship between performance at different exercise intensities and skeletal muscle characteristics. Journal of Applied Physiology, 1106, 1555–1563. Kautsar, A., Sumardiyanto, S., & Ruhayati, Y. 2018. Analisis fungsi manajemen organisasi olahraga Studi kualitiatif pada pengurus daerah ikatan sport sepeda Indonesia Jawa Barat. Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan, 32, 41–45. Khalsa, S. S. 2008. Pengajaran disiplin & harga diri Strategi, anekdot, dan pelajaran yang efektif untuk pengelolaan kelas yang sukses. Alih bahasa, Hartati Widiastuti. Jakarta PT Indeks. Koesoema, D. 2007. Pendidikan karakter Strategi mendidik anak di zaman global. Grasindo. Kusuma, G. N. A. 2013. Pengaruh pelatihan bayangan shadow bulutangkis terhadap peningkatan kelincahan dan kecepatan reaksi. Jurnal Ilmu Keolahragaan Undiksha, 11. Mesnan, M., & Antonius, F. 2019. Analisis manajemen pembinaan olahraga prestasi di KONI Pematang Siantar. Sains Olahraga Jurnal Ilmiah Ilmu Keolahragaan, 31, 35. Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaa, J. 2014. Qualitative data analysis A methods sourcebook. Sage. Njoroge, P. M., & Nyabuto, A. N. 2014. Discipline as a factor in academic performance in Kenya. Journal of Educational and Social Research, 41, 289. Omote, M. J., Thinguri, R. W., & Moenga, M. E. 2015. A critical analysis of acts of student indiscipline and management strategies employed by school authorities in public high schools in Kenya. International Journal of Education and Research, 312, 1–10. Ouma, M. A., Simatwa, E. M. W., & Serem, T. D. K. 2013. Management of pupil discipline in Kenya A case study of Kisumu Municipality. Educational Research, 45, 374–386. Park, K. J. 1998. Roosting ecology and behaviour of four temperate species of bat. University of Bristol. Paturusi, A. 2012. Manajemen pendidikan jasmani dan olahraga. Rineka Cipta. Proios, M., Athanailidis, I., Proios, M. P., & Mavrovouniotis, F. 2013. Management of ethical problems in sport within the justice framework. International Journal of Sport Management, Jurnal Keolahragaan 8 2, 2020 - 215 Mansur Mansur, Faidillah Kurniawan, Andri Wijaya, Suharjana Suharjana Copyright © 2020, Jurnal Keolahragaan, ISSN 2339-0662 print, ISSN 2461-0259 online Recreation & Tourism, 11, 42–62. Rahman, T., & Warni, H. 2017. Pengaruh latihan shadow 8 terhadap agility pada pemain bulutangkis PB. Mustika Banjarbaru usia 12–15 tahun. Multilateral Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 161. Setyobroto, S. 2002. Psikologi olahraga. Universitas Negeri Jakarta. Siagian, S. P. 2005. Fungsi-fungsi manajerial. Bumi Aksara. Stone, M. H., Sands, W. A., & Stone, M. E. 2004. The downfall of sports science in the United States. Strength & Conditioning Journal, 262. Sugiyono. 2010. Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Alfabeta. Sukadiyanto, S., & Muluk, D. 2011. Pengantar teori dan metodologi melatih fisik. Lubuk Agung. Sukardi, H. M. 2008. Evaluasi pendidikan Prinsip dan operasionalnya. Bumi Aksara. Tu’u, T. 2004. Peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa. Grasindo. Zuriah, N. 2006. Metodologi penelitian sosial dan pendidikan teori, aplikasi. Bumi Aksara. ... Improving sports achievements, is not an easy thing Williyanto & Raharjo, 2016, but it is necessary to foster and develop sports science and technology, human resources, and natural resources optimally Pratama et al., 2020. As a barometer of success in fostering sports achievements in Indonesia, it can be seen from Indonesia's achievements at the international level Mansur et al., 2020. Training is a systematic process and practice that is carried out repeatedly with incan reateasinglycreasing the amount of training load and training intensity Sari Helen Purnama, 2017, while achievement is an accumulation of physical qualities, techniques, tactics, and psychic or mental maturity Hinda Zhannisa & Sugiyanto, 2015 so that aspects need to be thoroughly prepared, ecabecausee aspect will determine other aspects Maulina, 2015. ...Muhammad IshakMoch. Asmawi James TangkudungSahabuddinIn general, the purpose of this research and development is to produce a model of smash practice in badminton games for beginners. In addition, this research and development are carried out to obtain in-depth information about the competencies, characteristics, and initial abilities of FIK UNM students in the implementation of lectures, especially in Badminton Learning materials. The design in the research and development of this learning model uses the research and development model approach Research & Development from Brog and Gall. While the subjects in this research and development are all students of the Faculty of Sports Science, Makassar State University, which numbers 40 people. The instruments used in this research and development are questionnaires and questionnaires used to collect data at the stage of 1 needs analysis; 2 expert evaluation initial product evaluation; 3 limited trials small group trials; and 4 field testing. For the effectiveness test, the model used the badminton smash test and the rubric for assessing the correctness of the smash movement. To see the results of the effectiveness of the model, a statistical test was used using the test-test formula with a signification level of α = Based on the development results, it can be concluded that 1 The smash practice model in the badminton game for beginners can be developed and applied in training, and 2 The smash practice model in the badminton game for beginners has been developed, obtained data on the effectiveness and results of the development of the smash practice model in badminton games for beginners as well as can and deserve to be used in badminton influence of a 9-week instructional program on locomotor and object control skill development of preschoolers who are at risk of developmental delay was investigated. The motor skill instruction group n = 33 received 18, 35-min lessons; the comparison group n = 30 received the regular prekindergarten program. Pre and posttest scores on the locomotor and object control subscales of the Test of Gross Motor Development Ulrich, 1985 were obtained. A Group by Gender MANOVA with repeated measures yielded a significant Group by Time interaction. The intervention group performed significantly better than the comparison group from pre to posttest for both locomotor and object control skills. Additionally, this group had significantly higher posttest scores than the comparison experience minor fatigue and acute reductions in performance as a consequence of the normal training process. When the balance between training stress and recovery is disproportionate, it is thought that overreaching and possibly overtraining may develop. However, the majority of research that has been conducted in this area has investigated overreached and not overtrained athletes. Overreaching occurs as a result of intensified training and is often considered a normal outcome for elite athletes due to the relatively short time needed for recovery approximately 2 weeks and the possibility of a supercompensatory effect. As the time needed to recover from the overtraining syndrome is considered to be much longer months to years, it may not be appropriate to compare the two states. It is presently not possible to discern acute fatigue and decreased performance experienced from isolated training sessions, from the states of overreaching and overtraining. This is partially the result of a lack of diagnostic tools, variability of results of research studies, a lack of well controlled studies and individual responses to training. The general lack of research in the area in combination with very few well controlled investigations means that it is very difficult to gain insight into the incidence, markers and possible causes of overtraining. There is currently no evidence aside from anecdotal information to suggest that overreaching precedes overtraining and that symptoms of overtraining are more severe than overreaching. It is indeed possible that the two states show different defining characteristics and the overtraining continuum may be an oversimplification. Critical analysis of relevant research suggests that overreaching and overtraining investigations should be interpreted with caution before recommendations for markers of overreaching and overtraining can be proposed. Systematically controlled and monitored studies are needed to determine if overtraining is distinguishable from overreaching, what the best indicators of these states are and the underlying mechanisms that cause fatigue and performance decrements. The available scientific and anecdotal evidence supports the existence of the overtraining syndrome; however, more research is required to state with certainty that the syndrome hypothesis investigated whether exercise performance over a broad range of intensities is determined by specific skeletal muscle characteristics. Seven subjects performed 8-10 exhaustive cycle trials at different workloads, ranging from 150 to 700 W 150 min to 20 s. No relationships between the performance times at high and low workloads were observed. A relationship P t table 9; = with Sig. 2-tailed = 0,000; turns Sig. 2-tailedPhilomena Mukami NjorogeAnn Nduku NyabutoDiscipline is a vital ingredient for the success of students’ academic performance. The Government of Kenya through the Ministry of Education MOE has always set up commissions of enquiries anytime the secondary schools unrests become a great concern, especially when it leads to massive destruction of property and death of students. The MOE has always wanted to get to the bottom of the matter and establish ways in which discipline can be enhanced. However, discipline in public day secondary schools has deteriorated in the past few years, especially since the ban of the cane jeopardizing the national goals of economic and industrial development MOE 2008. In spite of efforts by the schools, indiscipline is the order of the day and it may be assumed that it hampers good academic performance. The Teachers Service Commission TSC has further ensured that each school has a teacher-counselor to strengthen discipline yet many schools particularly in Ruiru District have continued to find it difficult to establish a strong culture of good discipline. The academic performance in Ruiru District has continued to deteriorate. The schools have also been experiencing students’ indiscipline. Although there are many factors that affect the academic performance, the factor of indiscipline has not been conclusively looked in to. It was therefore important and urgent to have an in-depth assessment of the role of discipline on academic performance in order to solve the problem. In view of the above, the task of this paper is to assess the causes of indiscipline, ascertain the relationship between students’ discipline and academic performance, find out challenges faced by teachers in dealing with students’ indiscipline and develop strategies for improving discipline in public day secondary schools in Ruiru district, Kiambu County in Kenya. DOI Although sports are considered an important part of American life, sports science has lost its identity and has largely been replaced by exercise science. Although exercise science may use sport for examples or as handy models for understanding exercise responses, exercise science is seldom concerned with enhancing the sport performance of the athletes it studies. The authors hope that sport science may be resurrected so that modern American athletes can benefit from scientifically derived and tested training methods and thus compete more effectively both at home and abroad. C 2004 National Strength and Conditioning AssociationIlmu faal olahraga fisiologi olahragaH Y S S GiriwijoyoD Z SidikGiriwijoyo, H. Y. S. S., & Sidik, D. Z. 2019. Ilmu faal olahraga fisiologi olahraga. Remaja between students' discipline and performance in the Kenya Certificate of Secondary EducationJ W GitomeM T KatolaB G NyabwariGitome, J. W., Katola, M. T., & Nyabwari, B. G. 2013. Correlation between students' discipline and performance in the Kenya Certificate of Secondary Education. International Journal of Education and Research, 18, 1-10. tangkis Petunjuk praktis untuk pemula dan lanjutT GriceGrice, T. 1996. Bulu tangkis Petunjuk praktis untuk pemula dan lanjut. PT RajaGrafindo Persada.
BEKASISetelah kosong sejak Desember 2020, Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) Kota Bekasi, akhirnya memiliki ketua umum baru setelah Ardiansyah Putra terpilih secara aklamasi melalui proses musyawarah kota (Muskot) yang dilaksanakan pada Kamis (25/11) siang, di ruang rapat Kantor KONI Kota Bekasi, di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Ardi dipilih oleh empat klub pemilik suara sah dengan

Susunan personalia Penggantian Antar Waktu PAW Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia PP. PBSI masa bakti 2020-2024DEWAN KEHORMATAN1. TRY SUTRISNO 2. SUBAGYO HADI SISWOYO 3. CHAERUL TANJUNG 4. SUTIYOSO 5. GITA WIRJAWANDEWAN PENASEHAT1. H. WIRANTO 2. LISTYO SIGIT PRABOWO 3. BAMBANG SOESATYO 4. SUFMI DASCO AHMAD 5. BILLY HARYANTO 6. NUSRON WAHID 7. LUKMANUL HAKIM 8. MARUARAR SIRAIT 9. SUJANA SULAEMAN 10. ISMED HASAN PUTRO 11. ARIF SATRIA 12. TAN JOE HOK 13. JUSTIAN SUHANDINATA 14. ANTON SUBOWODEWAN PENGAWASKetuaABDULLAH FADRI AULIWakil KetuaAKHMAD WIYAGUSSeketaris FERLIEAnggota1. AMRULLAH 2. D. KHADDAFI 3. HASAN BASRI 4. I WAYAN WINURJAYA 5. SUHARTO 6. SURIPNO NGADIMINKetua UmumAGUNG FIRMAN SAMPURNAKetua Harian / Wakil Ketua Umum IBidang Pembinaan Prestasi Bidang Turnamen Nasional dan Perwasitan Bidang Hubungan Luar NegeriTIRTA JUWANA DARMADJI ALEX TIRTAWakil Ketua Umum IIBidang Organisasi dan Kelembagaan Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi PBSI Bidang Pengembangan Daerah Bidang Pembinaan KomunitasEDUART WOLOKWakil Ketua Umum IIIBidang Dana dan Usaha Bidang Sarana dan PrasaranaALI HANAFIA LIJAYASekretaris JenderalMOHAMMAD FADIL IMRANWakil Sekretaris JenderalEDI SUKARNO SBendaharaBENI PRANANTOWakil BendaharaSHOHIBUL IMAMSTAF AHLI1. Bidang Pembinaan Prestasi1. TAUFIK HIDAYAT 2. ERMA SULISTIANINGSIH2. Bidang Organisasi1. JUNIARTO SUHANDINATA 2. MUSLIM JAYA3. Bidang Keuangan1. ACHMAD MUCHTASYAR 2. LUKMAN LAISABIDANG-BIDANG DAN SUB BIDANG1. Bidang Humas dan Media1. BROTO HAPPY WONDOMISNOWO 2. FREDDY EP. HUSEIN2. Bidang Informasi Teknotogi IT1. DEVI INDAH KARTIKA 2. ALFI R3. Ketua Bidang Pembinaan PrestasiRIONNY MAINAKY– Subid PelatnasEDDY PRAYITNO– Subid Pengembangan Prestasi DaerahRICKY SOEBAGDJA– Subid Pengembangan Sport ScienceIWAN HERMAWAN4. Ketua Bidang Turnamen Nasional Dan PerwasitanMIMI IRAWAN– Subid Turnamen NasionalNELSON– Subid PerwasitanWAHYANA5. Bidang Hubungan Luar NegeriBAMBANG ROEDYANTO6. Ketua Bidang Organisasi dan KelembagaanTOPAN INDRA KARSA– Subid Organisasi dan Tata Laksana1. ALFIADI 2. HANSMI YAHYA– Subid Hukum1. RUDY ALFONSO 2. MANUARANG MANALU7. Ketua Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi SI PBSIMOCH. SYA’RONI– Subid KeabsahanMOH. ALI MIFTAH– Subid Sistem Informasi SI PBSISETIO PRETIWANGGONO8. Ketua Bidang Pengembangan DaerahSUDARTO– Subid KORWIL I1, USMAN SYARIF 2. ERIZULHENDRIZAL– Subid KORWIL II1. AANG SYAHRUDIN 2. BAHTIAH THAMRIN– Subid KORWIL III1. MANUEL HV PANGKONG 2. MUHLIS LAMBOKA– Subid KORWIL IV1. BACHRUL AMIQ 2. AMOS RANDA PATANDUNG9. Ketua Bidang Pembinaan KomunitasSUKRIADI– Subid Komunitas Wilayah I1. JOKO SULARSO 2. M. NASIR– Subid Komunitas Wilayah II1. SUGIYANTO 2. YADI NURFENDI– Subid Komunitas Wilayah III1. MAX 2. DONALD MONINTJA– Subid Komunitas Wilayah IV1. REPI ALRAHMAD 2. DARMAWAN DUMING10. Ketua Bidang Dana dan UsahaINDRA SIMARTA– Subid Sponsorships1. DADANG SUWARNA 2. MUHAMMAD IDRUS 3. ABDUL HADI11. Ketua Bidang Sarana dan PrasaranaJOHNSON AH. RANTUNG– Subid Pengadaan dan Logistik1. MASRANUDIN ABD. AZIS 2. MUANIS HADISUTAMTO

ï»żBeberapanama mantan pebulutangkis juga turut menghiasi susunan kepengurusan PP PBSI periode 2020-2024. Diantaranya Kepala Pelatih Tunggal Putri Indonesia, Rionny Mainaky yang menduduki kursi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, menggantikan Susy Susanti.
Seorang penggemar bulutangkis yang membaca bocoran Susunan Pelatih Pelatnas PBSI Tahun 2017 di harian Kompas sudah membuat thread di forum diskusi Senin, 2 Januari perihal skuad pelatih di kepengurusan PP PBSI 2016-2020. Tanggapan penggemar bulutangkis di Tanah Air beragam menyikapi bocoran yang didapat harian Kompas tersebut. Dua hari kemudian Rabu, 04 Januari, di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, PP PBSI akhirnya merilis 19 nama pelatih sudah dipastikan akan bergabung menangani atlet bulutangkis nasional. Tak banyak perubahan pada nama-nama pelatih. Dari 19 nama pelatih yang diumumkan, terdapat satu posisi yang belum terisi yaitu kepala pelatih tunggal putri. PBSI masih belum memutuskan siapa yang akan mendudukinya. Untuk Asisten pelatih tunggal putri saat ini nama Minarti Timur menggantikan Sarwendah Kusumawardhani. Sementara kepala pelatih tunggal putri di kepengurusan lama dipegang Bambang Supriyanto. Selain itu, ada juga lima orang pelatih fisik yang akan mendampingi latihan para atlet. ''Untuk susunan pelatih, yang sudah bagus tentunya tetap saya pertahankan. Sementara yang belum baik secara prestasi, tentunya harus ada perubahan dan kami harus terus bekerja keras. Kami akan berusaha untuk bisa memperbaiki. Memang untuk pelatih tunggal putri ada perubahan yang cukup besar. Tentunya ini juga bentuk perhatian kami untuk bisa mencapai prestasi yang diinginkan,'' kata Susy Susanti, Kabid Pembinaan dan Prestasi PP PBSI. ''Sedangkan untuk sektor lain, seperti ganda campuran misalnya, kami masih mempercayakan kepada Richard Mainaky. Dengan prestasi yang sudah ada, kini pelatih tinggal mempersiapkan generasi kedua, ketiga dan seterusnya. Begitupun dengan sektor tunggal putra, ganda putra dan ganda putri,'' tambah Susy. * Berikut susunan lengkap pelatih bulutangkis nasional PP PBSI 2016 – 2020 Tunggal Putra Utama Kepala Pelatih Hendry Saputra Ho Asisten Irwansyah Tunggal Putra Pratama Pelatih Harry Hartono Asisten Deni Danuaji Tunggal Putri Utama Kepala Pelatih masih menunggu konfirmasi Asisten Minarti Timur Tunggal Putri Pratama Pelatih Jeffer Rosobin Asisten Herli Djaenudin Ganda Putra Utama Kepala Pelatih Herry Iman Pierngadi Asisten Aryono Miranat Ganda Putra Pratama Pelatih Thomas Indratjaja Asisten David Y. Pohan Ganda Putri Utama Kepala Pelatih Eng Hian Asisten Chafidz Yusuf Ganda Putri Pratama Pelatih Rudy Haditono Gunawan Asisten Anggun Nugroho Ganda Campuran Utama Kepala Pelatih Richard Mainaky Asisten Vita Marissa Ganda Campuran Pratama Pelatih Nova Widianto Asisten Amon Sunaryo Pelatih Fisik Ary Bayu Martha Ari Subarkah Iwan Hermawan Ricky Susiono Jansen Alpine
KetumPengprov PBSI Sulsel Devo Khaddafi saat melantik Pemkab PBSI Takalar, Selasa, (23/02/2021). Foto: Istimewa. TAKALAR - Pengurus Provinsi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sulsel, melantik Pengkab PBSI Takalar periode 2021-2025, di ruang pola Kantor Bupati Takalar pada Selasa, (23/02/2021). Pengkab PBSI Takalar ini diketuai oleh Muhsin yang juga merupakan Kepala Dinas
JAKARTA - Tim Formatur PP PBSI telah merilis susunan pengurus PP PBSI masa bakti 2020-2024. Dalam empat tahun ke depan, PP PBSI akan dipimpin oleh Ketua Umum Agung Firman Sampurna yang terpilih dari forum Musyawarah Nasional PBSI 2020 pada awal November di Hotel Ayana, Jakarta, pada Rabu 23/12, Pengurus PP PBSI masa bakti 2016-2020 resmi diumumkan. Dalam jumpa pers hari ini, Agung didampingi tim formatur diantaranya Alex Tirta, Edi Sukarno, Eduart Wolok dan Manuel HV beberapa nama mantan pebulutangkis yang masuk dalam susunan kepengurusan diantaranya Taufik Hidayat sebagai Staf Ahli Pembinaan dan Prestasi, serta Ricky Soebagja sebagai Subid Pengembangan Prestasi Daerah. Nama Kepala Pelatih Tunggal Putri PBSI Rionny Mainaky tercantum sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi, menggantikan Susy Susanti."Setelah kami melakukan profiling dan komunikasi yang intens dengan berbagai klub bulutangkis besar, akhirnya kita punya beberapa profil. Nah beberapa profil ini yang dianggap punya kemampuan dan visi misi sejalan dengan kami, dapat bekerja sama dengan kami, dan chemistry-nya sudah ada," ujar Agung soal pemilihan Kabid. Bipres. "Kami mau mencari profil pelatih yang punya kemampuan internasional, sejalan dengan visi misi kami serta bisa bekerjasama dengan kami. Rionny sudah 23 tahun berpengalaman melatih di Jepang, baik sebagai pelatih klub maupun tim nasional Jepang, dan sudah terbukti mengangkat prestasi tim bulutangkis Jepang," lanjut berharap pengalaman Rionny memupuk prestasi pemain Jepang bisa diterapkan di pembinaan bulutangkis Indonesia, karena target utama PBSI adalah meraih kembali supremasi-supremasi bergengsi ke Tanah susunan lengkap Pengurus Pusat PBSI 2020-2024 Dewan KehormatanTry SutrisnoSubagyo HadisiswoyoChairul TanjungSutiyoso Gita Wirjawan Ketua UmumAgung Firman SampurnaStaf Khusus Ketua UmumMohammad Fadil ImranDewan PengawasAbdullah Fadri AuliDevo FerlieAmrullahHasan BasriSuripno NgadiminAkhmad WiyagusSuhartoI Wayan Winurjaya Dewan PenasihatWirantoBambang SoesatyoSufmi Dasco AhmadBilly HaryantoMaruarar SiraitNusron WahidHamid AwaludinLukmanul HakimSulaiman SujanaIsmed Hasan PutroJustian SuhandinataTan Joe HokAnton Subowo Staf Ahli OrganisasiJuniarto SuhandinataMuslim Jaya Staf Ahli KeuanganAchmad MutasyarLukman Laisa Staf Ahli BinpresTaufik HidayatErmawati SekjenListyo Sigit PrabowoWasekjenEdi Sukarno SBendaharaBeni PranantoWakil BendaharaShohibul ImamBidang Hubungan Luar NegeriBambang Roediyanto Subid Informasi Teknologi ITDevi Indah Kartika Wawat KurniawanSubid Humas dan MediaBroto Happy WFellya HartonoFreddy EP Husein Wakil Ketua Umum I/Ketua HarianAlex Tirta Wakil Ketua Umum IIEduart WolokWakil Ketua Umum IIIAli Hanafiah WijayaBidang Pembinaan PrestasiRionny MainakySubid PelatnasEddy PrayitnoSubid Pengembangan dan Sport ScienceIwan HermawanSubid Pengembangan Prestasi DaerahRicky SoebagdjaBidang Organisasi dan KelembagaanTopan IndrakarsaSubid Organisasi dan Tata Laksana Alfiadi Hansmi YahyaSubid Hukum Rudy Alfonso Manuarang ManaluBidang Keabsahan dan Sistem InformasiMoch. Sya'roniSubid Pengumpulan dan Pengelolaan DataSetio PertiwanggonoBidang Turnamen Perwasitan dan RefereeMimi IrawanSubid Turnamen NasionalWahyana Subid PerwasitanNelsonBidang Pengembangan DaerahSudartoSubid Korwil I Usman Syarif Eri ZulhendrizalSubid Korwil II Aang Syahrudin Bahtiar ThamrinSubid Korwil III Manuel HV Pangkong Muhlis LambokaSubid Korwil IV Bachrul Amiq Amos PantandungBidang Pembinaan KomunitasSukriadiSubid Komunitas Wil I Joko Sularso M. NasirSubid Komunitas Wil II Sugiyanto Yadi NurfendiSubid Komunitas Wil III Max Olua Donald MonintjaSubid Komunitas Wil IV Revi Al Rahmad Darmawan DumingBidang Dana dan UsahaIndra SimarmataSubid Sponsorship Dadang Suwarna Muhammad Idrus Abdul HadiBidang Sarana dan PrasaranaJohnson AH Rantung Subid Pengadaann & Logistik Masranudin Abd. Aziz Muanis Hadisutamto Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Simak Video Pilihan di Bawah Ini Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini bulutangkis Sumber Badminton Indonesia Editor Andhika Anggoro Wening Konten Premium Nikmati Konten Premium Untuk Informasi Yang Lebih Dalam
VIVA- Berselang tiga pekan setelah melaksanakan kongresnya secara virtual, 25 Januari lalu, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia telah menetapkan susunan kepengurusan untuk masa bakti 2021-2025, pada Senin 15 Februari 2021.. Hal itu ditandai dengan penandatangan surat keputusan oleh ketiga formatur yang diamanatkan di dalam kongres yaitu Luhut Binsar Pandjaitan sebagai ketua

Info – Susunan kepengurusan PP PBSI masa bakti 2020-2024 ada mantan pemain bulu tangkis Taufik Hidayat sebagai Staf Ahli Pembinaan dan Prestasi, serta Ricky Soebagja sebagai Subid Pengembangan Prestasi Daerah. Nama Kepala Pelatih Tunggal Putri PBSI Rionny Mainaky tercantum sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi, menggantikan Susy Susanti. Tim Formatur PP PBSI telah merilis susunan pengurus PP PBSI masa bakti 2020-2024 termasuk Taufik Hidayat. Dalam empat tahun ke depan, PP PBSI akan dipimpin oleh Ketua Umum Agung Firman Sampurna yang terpilih dari forum Musyawarah Nasional PBSI 2020 pada awal November lalu. Dalam jumpa pers hari ini, Agung didampingi tim formatur diantaranya Alex Tirta, Edi Sukarno, Eduart Wolok dan Manuel HV Pangkong. Baca Juga PBSI Resmi Pembatalan Indonesia Masters 2020 Super 100 “Setelah kami melakukan profiling dan komunikasi yang intens dengan berbagai klub bulutangkis besar, akhirnya kita punya beberapa profil. Nah beberapa profil ini yang dianggap punya kemampuan dan visi misi sejalan dengan kami, dapat bekerja sama dengan kami, dan chemistry-nya sudah ada,” ujar Agung soal pemilihan Kabid. Bipres. “Kami mau mencari profil pelatih yang punya kemampuan internasional, sejalan dengan visi misi kami serta bisa bekerjasama dengan kami. Rionny sudah 23 tahun berpengalaman melatih di Jepang, baik sebagai pelatih klub maupun tim nasional Jepang, dan sudah terbukti mengangkat prestasi tim bulutangkis Jepang,” lanjut Agung. Agung berharap pengalaman Rionny memupuk prestasi pemain Jepang bisa diterapkan di pembinaan bulutangkis Indonesia, karena target utama PBSI adalah meraih kembali supremasi-supremasi bergengsi ke Tanah Air. Berikut susunan lengkap Pengurus Pusat PBSI 2020-2024 Dewan Kehormatan Try Sutrisno Subagyo Hadisiswoyo Chairul Tanjung Sutiyoso Gita Wirjawan Ketua Umum Agung Firman Sampurna Staf Khusus Ketua Umum Mohammad Fadil Imran Dewan Pengawas Abdullah Fadri Auli Devo Khaddafi Ferlie Amrullah Hasan Basri Suripno Ngadimin Akhmad Wiyagus Suharto I Wayan Winurjaya Dewan Penasihat Wiranto Bambang Soesatyo Sufmi Dasco Ahmad Billy Haryanto Maruarar Sirait Nusron Wahid Hamid Awaludin Lukmanul Hakim Sulaiman Sujana Ismed Hasan Putro Justian Suhandinata Tan Joe Hok Anton Subowo Staf Ahli Organisasi Juniarto Suhandinata Muslim Jaya Staf Ahli Keuangan Achmad Mutasyar Lukman Laisa Staf Ahli Binpres Taufik Hidayat Ermawati Sekjen Listyo Sigit Prabowo Wasekjen Edi Sukarno S Bendahara Beni Prananto Wakil Bendahara Shohibul Imam Bidang Hubungan Luar Negeri Bambang Roediyanto Subid Informasi Teknologi IT Devi Indah Kartika Wawat Kurniawan Subid Humas dan Media Broto Happy W Fellya Hartono Freddy EP Husein Wakil Ketua Umum I/Ketua Harian Alex Tirta Wakil Ketua Umum II Eduart Wolok Wakil Ketua Umum III Ali Hanafiah Wijaya Bidang Pembinaan Prestasi Rionny Mainaky Subid Pelatnas Eddy Prayitno Subid Pengembangan dan Sport Science Iwan Hermawan Subid Pengembangan Prestasi Daerah Ricky Soebagdja Bidang Organisasi dan Kelembagaan Topan Indrakarsa Subid Organisasi dan Tata Laksana Alfiadi Hansmi Yahya Subid Hukum Rudy Alfonso Manuarang Manalu Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi Moch. Sya’roni Subid Pengumpulan dan Pengelolaan Data Setio Pertiwanggono Bidang Turnamen Perwasitan dan Referee Mimi Irawan Subid Turnamen Nasional Wahyana Subid Perwasitan Nelson Bidang Pengembangan Daerah Sudarto Subid Korwil I Usman Syarif Eri Zulhendrizal Subid Korwil II Aang Syahrudin Bahtiar Thamrin Subid Korwil III Manuel HV Pangkong Muhlis Lamboka Subid Korwil IV Bachrul Amiq Amos Pantandung Bidang Pembinaan Komunitas Sukriadi Subid Komunitas Wil I Joko Sularso M. Nasir Subid Komunitas Wil II Sugiyanto Yadi Nurfendi Subid Komunitas Wil III Max Olua Donald Monintja Subid Komunitas Wil IV Revi Al Rahmad Darmawan Duming Bidang Dana dan Usaha Indra Simarmata Subid Sponsorship Dadang Suwarna Muhammad Idrus Abdul Hadi Bidang Sarana dan Prasarana Johnson AH Rantung Subid Pengadaann & Logistik Masranudin Abd. Aziz Muanis Hadisutamto Sumber Badminton Indonesia

Setelahdilaksanakan penelitian mengenai manajemen pembinaan, organisasi, sumber daya manusia, sarana prasarana dan dana, klub tersebut sudah mempunyai susunan kepengurusan dan terdapat unsur-unsur organisasi. Pembinaan atlet khususnya program latihan belum tersusun secara struktur. SDM pelatih dan pengurus sudah memenuhi kriteria pendidikan

- Nama induk organisasi bulu tangkis di Indonesia adalah PBSI. Adapun PBSI adalah singkatan dari Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia. PBSI dibentuk pada tanggal 5 Mei 1951 di itu, posisi ketua PBSI yang pertama dipegang oleh Rochdi Partaatmadja. Dia memimpin PBSI dengan didampingi oleh Soedirman sebagai ketua I dan Tri Tjondrokoesoemo selaku ketua terpilih dalam kongres bulu tangkis nasional di Bandung yang melahirkan organisasi PBSI. Rochdi perwakilan dari Bandung, sementara Soedirman dari Jakarta dan Tjondrokusumo asal Rochdi kala itu dikenal sebagai penulis dan jurnalis, sedangkan Soedirman menjadi pemilik sebuah klub badminton di Jakarta. Adapun Tri Tjondrokoesoemo yang pernah menjabat ketua dari Ikatan Sport Indonesia adalah sosok yang mengusulkan istilah badminton diganti bulu Soemantri, Rachim, Liem Soei Liong melengkapi susunan pengurus PBSI sebagai Sekretaris I, II, Bendahara I, dan II. Dengan terbentuknya pengurus di tingkat pusat, kemudian diikuti oleh pembentukan pengurus daerah pada tingkat di bawahnya. Kepengurusan di tingkat daerah/provinsi menjadi Pengda Pengurus Daerah. Smenetara Pengcab Pengurus Cabang jadi nama kepengurusan di tingkat kotamadya/kabupaten. Kepengurusan pertama PBSI berumur sekitar setahun. Pada Desember 1952, saat digelar kongres PBSI II di Jakarta, struktur kepengurusan berubah. Dalam kongres kedua itu, Soedirman terpilih menjadi ketua PBSI menggantikan Rochdi. Soedirman kemudian selalu terpilih menjadi ketua PBSI pada beberapa kongres selanjutnya yaitu tahun 1954, 1959, 1961, 1968, dan 1977, demikian mengutip buku Tangkas 67 Tahun Berkomitmen Mencetak Jawara Bulu Tangkis 201814. Pada akhir Agustus 1977, telah berdiri 26 Pengda dan 224 Pengcab PBSI di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, ada pula sekitar 2000 perkumpulan badminton yang menjadi anggota Lambang PBSI Lambang PBSI berbentuk perisai yang di tengahnya terdapat shuttlecock dengan padi dan kapas. Selain itu, lambang PBSI memiliki lima warna yakni kuning, hijau, merah, putih, dan hitam. Warna kuning menyimbolkan kejayaan, hijau berarti kesejahteraan dan kemakmuran, hitam punya makna kesetiaan dan kekal, merah artinya keberanian, serta putih bermakna kejujuran. Gambar Kapas yang berjumlah 17 biji melambangkan angka dari tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, gambar Shuttlecock dengan delapan bulu, melambangkan angka bulan proklamasi, yakni bulan ke-8 atau bulan Agustus. Masih dalam logonya, terdapat rangkaian huruf PBSI’ berjumlah 4 buah dan dihubungkan dengan gambar setengah lingkaran sebanyak 5 biji berwarna merah di bawah shuttlecock, melambangkan tahun 1945. Gambar padi sebanyak 51 butir melambangkan tahun lahir PBSI yaitu tahun 1951. Sementara itu, gambar perisai merupakan simbol ketahanan, keuletan, kuat, dan tekun. - Pendidikan Kontributor Auvry AbeyasaPenulis Auvry AbeyasaEditor Addi M Idhom

PemilikPB Talenta Bambang Srigati di Yogya, Sabtu (13/2) mengatakan, klub ini baru berusia satu tahun. Tepatnya, berdiri 16 Februari 2020. Saat ini PB Talenta yang merupakan anggota resmi Pengkot PBSI Yogyakarta telah memiliki sekitar 25 atlet. Dalam Kepengurusan PB Talenta sudah memiliki susunan organisasi klub yang cukup komplit. Dari Wiktionary bahasa Indonesia, kamus bebas Loncat ke navigasi Loncat ke pencarianbahasa Indonesia[sunting] Nomina kepengurusan ke-an + pengurus, urus seluk-beluk yang berhubungan dengan tugas pengurus akhirnya tercapai kesepakatan tentang kepengurusan partai itu hal-hal yang bersangkut-paut dengan cara mengurus sesuatu diciptakan kepengurusan yang sejalan dengan hasil kongres Sinonim Frasa dan kata majemuk Variasi Terjemahan[?] Lihat pula Semua halaman dengan kata "kepengurusan" Semua halaman dengan judul mengandung kata "kepengurusan" Lema yang terhubung ke "kepengurusan" Pranala luar Definisi KBBI daring KBBI V, SABDA KBBI III, Kamus BI, Tesaurus Tesaurus Tematis, SABDA Terjemahan Google Translate, Bing Translator Penggunaan di korpora Corpora Uni-Leipzig Penggunaan di Wikipedia dan Wikisource Wikipedia, Wikisource Ilustrasi Google Images, Bing Images Jika komentar Anda belum keluar, Anda dapat menghapus tembolok halaman pembicaraan ini. Belum ada komentar. Anda dapat menjadi yang pertama lbs Bahasa Indonesia a ° ‧ b ° ‧ c ° ‧ d ° ‧ e ° ‧ f ° ‧ g ° ‧ h ° ‧ i ° ‧ j ° ‧ k ° ‧ l ° ‧ m ° ‧ n ° ‧ o ° ‧ p ° ‧ q ° ‧ r ° ‧ s ° ‧ t ° ‧ u ° ‧ v ° ‧ w ° ‧ x ° ‧ y ° ‧ z ° Kategori Kata Kata dasar Kata berimbuhan Kata ulang Turunan kata Gabungan kata majemuk Frasa Turunan frasa Morfem Imbuhan Prakategorial Morfem terikat Morfem unik Peribahasa/idiom Kiasan/ungkapan Kependekan singkatan dan akronim Bahasa daerah Bahasa asing/serapan Kata dengan unsur serapanKelas kata Adjektiva Adverbia Artikula Interjeksi Interogativa Konjungsi Nomina Numeralia Partikel Preposisi Pronomina VerbaRagam bahasa Arkais tidak lazim / Ejaan lama Cakapan tidak baku / nonformal / variasi Klasik naskah kuno Kasar Hormat Feminin MaskulinBidang ilmu /Leksikon Administrasi dan Kepegawaian Agama Budha Agama Hindu Agama Islam Agama Katolik Agama Kristen Anatomi Antropologi Arkeologi Arsitektur Astrologi Astronomi Bakteriologi Biologi Botani Demografi Ekonomi dan Keuangan Elektronika Entomologi Farmasi Filologi Filsafat Fisika Geografi dan Geologi Grafika Hidrologi Hidrometeorologi Hukum Ilmu Komunikasi Kedirgantaraan Kedokteran dan Fisiologi Kehutanan Kemiliteran Kesenian Kimia Komputer Linguistik Manajemen Matematika Mekanika Metalurgi Meteorologi Mikologi Mineralogi Musik Olahraga Pelayaran Pendidikan Penerbangan Perdagangan idNegasiIndeks Alfabetis Frasa Frekuensi Kiasan Peribahasa Serapan Gambar 206 kata benda dasar Swadesh 207 kata dasar Kata perhentian stopwords RimaImbuhan Nomina -an ke-/ke-an/keber-an/kepeng-an/kese-an/keter-an/ketidak-an pe-/pe-an per-/per-an se-/se-an Adjektiva ter- se- ke- Verba ber-/ber-an/ber-kan me-/me-i/me-kan di-/di-i/di-kan ku-/ku-i/ku-kan kau-/kau-i/kau-kan memper-/memper-i/memper-kan diper-/diper-i/diper-kan kuper-/kuper-i/kuper-kan kauper-/kauper-i/kauper-kan -i -kan Akhiran -ku -mu -nya -kah -lah -tah Sisipan -er-, -el-, -em-, -in- KategoriBahasa Indonesia IndeksBahasa Indonesia ProyekWiki bahasa Indonesia Lampiran bahasa Indonesia Bahasa daerah sebagian atau seluruh definisi yang termuat pada halaman ini diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pasal1. Nama, Tempat Kedudukan dan Waktu. 1) Organisasi ini bernama Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia disingkat PBSI. 2) PBSI didirikan pada tanggal 5 Mei 1951 di Bandung dan selanjutnya berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia. 3) PBSI didirikan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Pasal 2. Azas.
Uploaded byguntur 0% found this document useful 1 vote2K views1 pageDescriptiontata tertib bermain bulutangkis di lapangan warga rt01004 pulo gebangCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 1 vote2K views1 pageTata Tertib Bermain Bulu Tangkis Lapangan Warga Rt010Uploaded byguntur Descriptiontata tertib bermain bulutangkis di lapangan warga rt01004 pulo gebangFull description hkpH.
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/105
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/238
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/126
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/126
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/94
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/487
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/394
  • fxi1qgwg7d.pages.dev/470
  • susunan kepengurusan klub bulutangkis